BADAI
IDIOT SEBELUM PELANGI KEJENIUSAN
Karya : M. Febrian Hadi
Mataku
ku fokuskan pada ujung sepatu ku. Menembus kacamata minus yang sesalu menempel diwajahku. Tak ada niat untuk memandang ke
depan dan mengankat pandangan kosong ku. Bukan hanya hari ini saja aku lakukan namun
pada setiap pagi sesampai di sekolah yang bisa kulakukan hanyalah hal ini.
Lorong sekolah nampaknya tenang dan sunyi pagi ini. Tak terdengar panggilan-panggilan “Anak pungut Idiot” yang biasanya menusuk tajam ke gendang telingaku dan menjadi sarapan setiap hari ku di sekolah. Namun hati ku tidak sensitive seperti gendang telingaku. Tak ada rasa dendam atas ucapan-ucapan khilaf mereka.
“Usman!” panggilan mengarah kepada ku. Nampaknya ibu guru yang selalu menjadi penyemangat ku itu yang memanggil ku. “Iya bu’ Anna?” sahut ku dengan nada sopan dan merendah. “kesini ada yang mau ibu bicarakan”. Tak ada keraguan, langsung saja kuhampiri bu’ Anna dengan penuh hormat.
Nampaknya bu’ Anna memanggilku karena nilai ku yang sangat buruk. Tak pernah nilai ku diatas 30/100 pada ujian matematika ataupun pelajaran lain. Bahkan nilai penjas orkes yang dianggap pelajaran termudah oleh teman-teman ku disekolah, aku hanya bisa sampai pada nila tertinggi 45/100 saja. Tapi hari jauh lebih buruk. Kulihat bu’ Anna memberiku lembar jawaban matematikaku dengan goresan tinta merah bertuliskan angka 15/100 di atasnya.
“Man, kamu bukannya tidak bisa, akan tetapi hanya masih tertunda untuk bisa jadi jangan patah semangat ya” Motivasi yang diberikan bu’ Anna. “Terima Kasih bu’” jawab ku dengan senyum paksaan yang menghiasi wajahku.
“Anak Pungut Idiot”. Panggilan itu sudah lumrah menusuk gendang telingaku yang sensitive ini. Hampir semua teman-teman sekolah ku memanggilku dengan panggilan itu. Terkadang khayalan tinggi dengan penyesalan dan setetes demi tetes curahan air mataku jatuh di belakang kacamata minusku. “mengapa aku begini?” Itulah yang selalu menjadi pertanyaan besar dalam batin ku. Betapa tidak, Ayah ku adalah seorang politikus yang terkenal dengan kecerdasan vocal dan sikap bijaksananya. Dan ibu ku seorang guru Biologi yang mengajar di salah satu SMA ternama di daerahku. Namun mereka mempunyai anak idiot seperti ku. Hal itulah yang membuat teman-teman ku memanggilku “anak pungut idiot”. Mungkin mereka berfikir aku hanyalah anak pungut yang di bina oleh orang jenius. Aku bukan anak dari orang tua ku.
Terkadang kalbuku dengan pasrah ingin mengakui kalau aku bukanlah anak Ayah dan Ibu ku. Aku hanya anak idiot yang dipungut oleh orang yang jenius. Namun terkadang pula rasa bersalah dan berdosa saat aku bersikap su’uzan kepada kedua orang yang membesarkan ku itu. Pasalnya kasih sayang yang mereka curahkan padaku tidak menunjukkan kalau aku bukan anak mereka.
Lorong sekolah nampaknya tenang dan sunyi pagi ini. Tak terdengar panggilan-panggilan “Anak pungut Idiot” yang biasanya menusuk tajam ke gendang telingaku dan menjadi sarapan setiap hari ku di sekolah. Namun hati ku tidak sensitive seperti gendang telingaku. Tak ada rasa dendam atas ucapan-ucapan khilaf mereka.
“Usman!” panggilan mengarah kepada ku. Nampaknya ibu guru yang selalu menjadi penyemangat ku itu yang memanggil ku. “Iya bu’ Anna?” sahut ku dengan nada sopan dan merendah. “kesini ada yang mau ibu bicarakan”. Tak ada keraguan, langsung saja kuhampiri bu’ Anna dengan penuh hormat.
Nampaknya bu’ Anna memanggilku karena nilai ku yang sangat buruk. Tak pernah nilai ku diatas 30/100 pada ujian matematika ataupun pelajaran lain. Bahkan nilai penjas orkes yang dianggap pelajaran termudah oleh teman-teman ku disekolah, aku hanya bisa sampai pada nila tertinggi 45/100 saja. Tapi hari jauh lebih buruk. Kulihat bu’ Anna memberiku lembar jawaban matematikaku dengan goresan tinta merah bertuliskan angka 15/100 di atasnya.
“Man, kamu bukannya tidak bisa, akan tetapi hanya masih tertunda untuk bisa jadi jangan patah semangat ya” Motivasi yang diberikan bu’ Anna. “Terima Kasih bu’” jawab ku dengan senyum paksaan yang menghiasi wajahku.
“Anak Pungut Idiot”. Panggilan itu sudah lumrah menusuk gendang telingaku yang sensitive ini. Hampir semua teman-teman sekolah ku memanggilku dengan panggilan itu. Terkadang khayalan tinggi dengan penyesalan dan setetes demi tetes curahan air mataku jatuh di belakang kacamata minusku. “mengapa aku begini?” Itulah yang selalu menjadi pertanyaan besar dalam batin ku. Betapa tidak, Ayah ku adalah seorang politikus yang terkenal dengan kecerdasan vocal dan sikap bijaksananya. Dan ibu ku seorang guru Biologi yang mengajar di salah satu SMA ternama di daerahku. Namun mereka mempunyai anak idiot seperti ku. Hal itulah yang membuat teman-teman ku memanggilku “anak pungut idiot”. Mungkin mereka berfikir aku hanyalah anak pungut yang di bina oleh orang jenius. Aku bukan anak dari orang tua ku.
Terkadang kalbuku dengan pasrah ingin mengakui kalau aku bukanlah anak Ayah dan Ibu ku. Aku hanya anak idiot yang dipungut oleh orang yang jenius. Namun terkadang pula rasa bersalah dan berdosa saat aku bersikap su’uzan kepada kedua orang yang membesarkan ku itu. Pasalnya kasih sayang yang mereka curahkan padaku tidak menunjukkan kalau aku bukan anak mereka.
Ku pandang tajam langit
di pagi yang tenang ini. Fokusku pada warna birunya yang tenang itu menembus
lensa minus yang menempel di depan mataku. Lensa yang ku dapatkan kerena usaha
belajarku yang sangat keras. Namun tak ada hasil yang memuaskan dari usaha itu.
Tidak ada kelas pagi ini. Dan rencanaku hari ini aku hanya akan merenungkan diriku. Anak idiot yang dilahirkan dari orang tua yang jenius. Saat tatapanku masih tertuju pada birunya langit, terlihat awan yang tenang tanpa gerakan. Bentuk-bentuknya pun tidak berubah selama mataku memandanginya.
Tidak ada kelas pagi ini. Dan rencanaku hari ini aku hanya akan merenungkan diriku. Anak idiot yang dilahirkan dari orang tua yang jenius. Saat tatapanku masih tertuju pada birunya langit, terlihat awan yang tenang tanpa gerakan. Bentuk-bentuknya pun tidak berubah selama mataku memandanginya.
“Usman,
saatnya sarapan” panggil Ibu ku. Dengan sedikit terkejut ku tinggalkan khayalan
dan memenuhi panggilan Ibu ku untuk sarapan. Pasalnya ibu ku orangnya paling
tidak suka jika harus menunggu salah seorang anggota keluarga saat memulai
makan.
“Bu’ !” panggilku pada ibu dengan nada yang haslus
dan sedikit ragu. “ Iya sayang, ada apa?” sahut beliau dengan nada penuh rasa
sayang. Rasanya ingin sekali menanyakan kenapa aku seperti ini? Namun hati ini
tak kuasa jika melihat ibu bersedih dengan pertanyaan itu. “Tidak ada bu’,
sarapannya enak” jawabku dengan senyuman mengiringinya. “Alhamdulillah” sambut
ibu ku sambil0tersenyum0senang.
Setelah sarapan, kembali ku pandangi birunya langit dan corak-corak abstrak yang menghiasinya tadi. Kembali kurenungkan dan ku tenggelam diriku dalam khayal pertanyaan yang membingungkan.0“Siapaiakuisebenarnya?”
Sontak mata ku terfokus pada corak-corak abstrak yang dibentuk gulungan besar uap air itu. Kulihat, bentuk awan yang tak berubah-ubah tadi menjadi bentuk yang lain setelah aku mengalihkan pandangan ku untuk sarapan. Corak yang sangat berbeda kulihat. Padahal pagi ini tidak ada angin yang terasa oleh kilitku. Bahkan lensa kacamata ku pun tidak perlu kubersihkan keranaitakiterlihatisedikitipunidebuiyangimenempelipadanya.
Sejenak ku turunkan pandangan dari langit. Memandang ke depan dengan pandangan kosong yang penuh renungan. “Awan tadi kulihat tidak berubah bentuknya. Namun setelah lama, mungkin dengan adanya angin walaupun lebih lemah dari tiupan seekor semut dapat mengubah corak awan itu. Bentuknya pun sangat berbeda tidak ada tanda-tanda kesamaan dari bentuk awalnya”. Renungan dalam pandangan kosong ku.
Detik demi detik waktu berjalan. Sangat lama setelah pembelajaran yang hampir tak ada gunanya bagi otakku ku rasakan, akan ku lepas seragam putih biru ini. Sikap optimis yang selalu ada padaku semenjak aku diberi petunjuk awan oleh Tuhan membuatku yakin bahwa aku akan lulus dengan nilai yang bagus.
Kacamata yang selalu membantuku dalam memahami rumaus-rumus pitagoras ini pun pun sudah kuganti. Pasalnya kacamata itu tak mampu lagi menopang tingginya tingkat usaha untuk mendapatkan nilai yang memuaskan. Aku tidak takut jika mata ku harus minus karena aku percaya segala sesuatu pasti ada resikonya bahkan hal baik sekalipun. Namun di pandangan Tuhan itu bukanlah sebuah resiko, akan tetapi itu adalah sebuah anugrah dan rahmat.
Setelah sarapan, kembali ku pandangi birunya langit dan corak-corak abstrak yang menghiasinya tadi. Kembali kurenungkan dan ku tenggelam diriku dalam khayal pertanyaan yang membingungkan.0“Siapaiakuisebenarnya?”
Sontak mata ku terfokus pada corak-corak abstrak yang dibentuk gulungan besar uap air itu. Kulihat, bentuk awan yang tak berubah-ubah tadi menjadi bentuk yang lain setelah aku mengalihkan pandangan ku untuk sarapan. Corak yang sangat berbeda kulihat. Padahal pagi ini tidak ada angin yang terasa oleh kilitku. Bahkan lensa kacamata ku pun tidak perlu kubersihkan keranaitakiterlihatisedikitipunidebuiyangimenempelipadanya.
Sejenak ku turunkan pandangan dari langit. Memandang ke depan dengan pandangan kosong yang penuh renungan. “Awan tadi kulihat tidak berubah bentuknya. Namun setelah lama, mungkin dengan adanya angin walaupun lebih lemah dari tiupan seekor semut dapat mengubah corak awan itu. Bentuknya pun sangat berbeda tidak ada tanda-tanda kesamaan dari bentuk awalnya”. Renungan dalam pandangan kosong ku.
Detik demi detik waktu berjalan. Sangat lama setelah pembelajaran yang hampir tak ada gunanya bagi otakku ku rasakan, akan ku lepas seragam putih biru ini. Sikap optimis yang selalu ada padaku semenjak aku diberi petunjuk awan oleh Tuhan membuatku yakin bahwa aku akan lulus dengan nilai yang bagus.
Kacamata yang selalu membantuku dalam memahami rumaus-rumus pitagoras ini pun pun sudah kuganti. Pasalnya kacamata itu tak mampu lagi menopang tingginya tingkat usaha untuk mendapatkan nilai yang memuaskan. Aku tidak takut jika mata ku harus minus karena aku percaya segala sesuatu pasti ada resikonya bahkan hal baik sekalipun. Namun di pandangan Tuhan itu bukanlah sebuah resiko, akan tetapi itu adalah sebuah anugrah dan rahmat.
Sejak saat itu di
sekolah aku lebih senang berada di tempat yang sepi dan terlihat menyendiri.
Ini semua kulakukan agar aku bisa lebih fokus dalam memahami
pelajaran-pelajaran. Wajar,kerena kerendahan IQ yang ku miliki aku harus
belajar dengan keras di tempat yang sangat tenang dalam memahami hal sederhana
sekalipun. Namun aku tak menyerah, apapun akan kulakakan untuk membuktikan aku
bukan sepeti yang mereka fikirkan. Bu’ Anna juga pernah mengatakan kepadaku “IQ
adalah anugrah Tuhan yang diberikan pada umatnya dengan tingkatan yang
berbeda-beda, namun dengan usaha dan kerja keras IQ yang dimilki seseorang bisa
dirubah”.
Usahaku tak sia-sia. Petunjuk yang diberikan Tuhan kepadaku sangat berguna. Kata bu’ Anna tentang IQ itu pun benar adanya. Ini terbukti saat namaku disebutkan dalam pengumuman kelulusan di SMP ku. Namaku pun tertulis di urutan ke 2 pada papan pengumuman. Di bawah cewek yang terkenal jenius di sekolahku. Cece pitulah nama panggilannya.
Kulihat semua siswa bahkan para guru-guru ku pun terdiam, terlihat di wajah mereka perasaan heran. “selamat ya Nak! Akhirnya kamu bisa membuktikan kamu adalah anak jenius yang tertunda kejeniusannya”. Ucap bu’ Anna kepadaku dengan mata yang berkaca-kaca. Nampaknya perasaaan haru datang saat aku harus pergi meninggalkan beliau di SMP ini setelah usaha beliau untuk membuatku jenius berhasil.
Orang tua ku pun menangis haru dengan prestasiku. Silih berganti teman-temanku memberikan selamat dan ada pula yang meminta maaf padaku atas kelakukan merek terhadap ku dulu. Maaf mereka pun ku balas dengan rasa terima kasih. Karena hinaan mereka terhadapku telah menjadi motivasi yang luar biasa dalam perubahanku.
Usahaku tak sia-sia. Petunjuk yang diberikan Tuhan kepadaku sangat berguna. Kata bu’ Anna tentang IQ itu pun benar adanya. Ini terbukti saat namaku disebutkan dalam pengumuman kelulusan di SMP ku. Namaku pun tertulis di urutan ke 2 pada papan pengumuman. Di bawah cewek yang terkenal jenius di sekolahku. Cece pitulah nama panggilannya.
Kulihat semua siswa bahkan para guru-guru ku pun terdiam, terlihat di wajah mereka perasaan heran. “selamat ya Nak! Akhirnya kamu bisa membuktikan kamu adalah anak jenius yang tertunda kejeniusannya”. Ucap bu’ Anna kepadaku dengan mata yang berkaca-kaca. Nampaknya perasaaan haru datang saat aku harus pergi meninggalkan beliau di SMP ini setelah usaha beliau untuk membuatku jenius berhasil.
Orang tua ku pun menangis haru dengan prestasiku. Silih berganti teman-temanku memberikan selamat dan ada pula yang meminta maaf padaku atas kelakukan merek terhadap ku dulu. Maaf mereka pun ku balas dengan rasa terima kasih. Karena hinaan mereka terhadapku telah menjadi motivasi yang luar biasa dalam perubahanku.
Aku
percaya, jika awan yang mengandung air pada langit dapat di ombang-ambingkan
bentuknya dengan lembutnya angin. Walau tidak cepat perubahan itu akan terjadi
seiring konsistennya angin dan berputarnya detik siang malam. Tidak ada sesuatu
hal yang tidak mungkin, hanya ada hal yang sangat sulit. Namun sangat sulit
bukan berarti tidak bisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar