Kasih Seorang Suster
“Dorong cepat,
langsung bawa ke ruang operasi ! Pasang oksigennya segera, tetap cek
denyutnya nadinya”. “Baik dok”. Intruksi dokter kepada para asistennya untuk segera
melakukan tindakan untuk menyelamatkan seorang pemuda. Darah dan luka membujur
di seluruh tubuh bahkan ia tak sadarkan diri. Ia hanya di bawa oleh pria paruh
baya yang sehari-hari bekerja sebagai kuli jalanan.
Pemuda
itu menabrak truk proyek yang parker di sebelah kiri jalan. Tak ada yang patut
disalahkan. Truk yang tanpa sopir itu sudah benar parker disana. Azkan pun tak
bisa disalahkan, ia menabtrak truk tronton itu lantaran ban motor yang
dikendarainya meletus dan membuatnya kehilangan kendali hingga menabrak.
Nyaris. Jika
kurang 20 menit saja para dokter handal itu mengambil tindakan operasi mungkin
wajah ceria dan cerdasnya tak akan dapat dilihat lagi. Syukurlah hidupnya
terselamatkan melalui seorang kuli jalan yang biasa di panggil pak Akoh itu.
Beliau memang terkenal dengan sikapnya yang deermawan. Rumornya duda tua itu
sanggup tidak makan sehari bila melihat orang yang sangat memerlukan
pertolongan. Sungguh mulia hati yang beliau jaga.
Malam mulai
menyelimuti kota Mataram yang giguyur hujan deras sejak tadi sore. Terlihat menggelitik
kaget ringan jari telunjuk yang habis dibalut perban itu. Pak Ahok yang hanya
sendiri di dalam ruangan langsung memanggil dokter Angga yang sedang bertugas
di ruang sebelah. Dokter Angga datang bersama dengan asistennya Resti.
Nampaknya Azka sudah mulai siuman dan sudah sadarkan diri.
Yang ia kagetkan
adalah bukan karena kenapa bannya tadi siang meletus. Namun yang paling ia
kagetkan ketika ia tidak melihat orang yang dikenalinya tidak di sana
bersamanya. Ia hanya melihat bapak paru baya yang memakai topi hitam kusam oleh semen. Ia pikir mungkin beliau sopir truk yang ditabraknya tadi. Dan
sekarang beliau akan minta ganti rugi.
“sudah baikan
nak?” Tanya pak Ahok padanya. Ia hanya mengguk tanpa sepatah kata. “Bapak tadi
berusaha mencari identitas mu nak, namun kamu tidak membawa kartu identitas
apapun. Namun tenanglah bapak sudah hubungi polisi setempat untuk mencari
identitas mu”.
Siapa laki-laki
ini? Azka semakin penasaran rasanya. “mengapa ia membantu ku padahal aku tak
mengenalnya. Kalau pun itu sopir truk yang ingin meminta ganti rugi kenapa
tidak minta langsung sekarang”. Terlintas dalam hatinya sambil memandangi
wajah kriput tua disamping kirinya itu.
“tadi bapak
sedang bekerja di pinggir jalan. Tiba-tiba terdengar suara tabrakan keras dari
sebelah kanan bapak. Nampaknya kamu menabrak truk yang sedang parkr di tepi jalan. Bapak ikut kesini soalnya kamu tidak punya identitas apapun. Jadi bapak
ditugaskan pak polisi untuk menjagamu sementara identitas mu di temukan. Ini
makan dulu buburnya, biar bapak suapin”. Ucap pak Akoh saat sedang menyuapi
bubur makan malam kepadanya.
Ternya
bukan sopir truk yang ia kira. Beliau orang baik ternya. Pikirnya sambil
menelan bubur halus yang diberikan Rumah Sakit Umum Mataram. “Pak!” “Eh kamu
sudah bisa ngomong?” “iya pak, boleh saya minta tolong pinjam hanphone bapak
bentar?” Tanya Azaka meminta. “tentu nak, silahkan hubungi orang tua mu”. “Iya
pak, terima kasih”.
Saat
ia mulai menekan tombol-tobol kasar pada handphone jadul itu, tiba tiba suara
pintu terbuka dan terlihat wajah yang sangat tak asing baginya. “Kamu yang
menabrak anak saya? Kamu yang membuatnya begini? Dasar manusia tak berhati”.
Geram pak Ahmad sambil memegang keras leher baju pak Ahok yang sudah mulai rapuh.
“bukan pak, bukan. Beliau yang menyelamatkan putra bapak mungkin kalau beliau
tidak ada bapak tidak akan bisa melihat anak bapak lagi”. Dokter Angga berusaha
menenangkan Ayah Azka.
“Kenapa
baru datang Yah?”. Tanya Azka dengan nada haru nan bergelinang air mata.
“Maafkan Ayah nak. Tadi bapak ada rapat rutin di kantor bapak juga dapat info
ini tadi setelah sholat magrib dari polisi. Kata mereka kamu ndak bawa
identitas apa apa makanya mereka sulit menginfokan ini kepada kami. Ayah minta
maaf ya sayang maafkan Ayah”. Ayahnya tak kuasa menahan rasa sedih yang
bercampur rasa bersalah itu. Tak dapat beliau bayangkan jika anak laki-laki
satu-satunya yang sangat beliau banggakan tak dapat beliau lihat lagi.
“Sudahlah Yah, tak apa semuanya juga sudah terjadi”. Azka menangkan Ayahnya
yang bergelinang air mata. “Lalu ibu dimana Yah ?” Azka kebingungan. “Ibunmu
akan segera kesini nak, tadi Ayah pulang dari kantor langsung ke Mataram. Bapak
sudah telpon om Agus mu buat bawa ibu ke sini pakek mobilnya. Azka hanya terdiam
dan berusaha mengistirahatkan penaknya.
“Maaf
ya pak, tadi saya salah paham dan memfitnah bapak. Saya tidak bisa kendalikan
diri saya tadi pak saking paniknya”. “Iya tidak apa-apa pak, saya mengerti apa
yang bapak rasakan, saya juga penah mengalami yang bapak alami. Namun saya
lebih sakit pak. Anak dan istri saya saya temukan dalam kondisi tak bernafas
lagi pasca kecelakan bus 3 tahun lalu”. “Astaga maafkan saya pak, saya tidak
tahu tentang itu”. “Iya pak, tidak apa itu sudah lama terjadi”. Sambut pak Akoh
dengan wajah tabah.
“oiya
ngomog-ngomong, perkenalkan saya Ahmad Ayahnya Azka. Nama bapak siapa?”.
Kembali pak Ahmad menghangatkan bekunya malam dengan sedih malam itu. “Nama
saya Akoh pak, saya kuli jalanan”. “Terima kasih banyak pak atas pertolongan
bapak. Kalau tidak ada bapak siang tadi
saya tidak tau apa yang akan terjadi pak, saya tidak akan pernah bisa memaafkan
diri saya”. Pak Ahmad begitu sedih dan masih terpukul penyesalan karena tidah
ada di samping anaknya saat operasi siang tadi.
Pebincangan
mereka di lorong kamar 209 rasanya memecah bekunya malam. Dari kejauhan
terdengar suara langkah sedikit lari dari sandal jepit, sepertinya lebih dari
satu orang. Saat melihat itu ibunya Azka pak Ahmad langsung menjemput dan
memeluk menenangkan istrinya yang terlihat histeris. “mana Azka Yah, saya mau
melihatnya”. Bu’ Unul dengan tangisannya yang tak bisa beliau tahan. “Iya bu’
tapi tenangkan diri ibu dulu, Azka sudah baikan sekarang”. Pak Ahmad mencoba
menenangkan.
Melihat
anaknya yang lemas tak berdaya di atas kasur berseprai putih itu membuat bu
Unul semakin histeris dicampuri rasa penyesalan. Karena dokter masih mengecek
kondisinya Beliau hanya dapat melihat melalui kaca kecil pintu kamar rumah
sakit. Tak henti air mata pnyesakan keluar dari kelopak mata bu Unul. Pak Ahmad
terus berusaha menenangkan istrinya, namun rasanya beliau juga semakin tidak
tenang melihat istrinya yang begitu sedih dan menyesali ketidak hadirannya tadi
siang.
Dokter
baru selasai melakukan pemeriksaaan total pada tengah malam. Namun bu’ Unul
masih saja menangis bahkan terlihat air mata beliau sudah tak mengiringi tangis
sesalnya. “Nak, maaf kan ibu”. Hanya kata itu yang bisa beliau katakana di
depan tubuh anaknya yang terbaring tak berdaya malam itu.
Setelah
beberapa minggu kondisi Azka sudah mulai membaik. Ia sudah bisa tertawa dengan
candaan om Agusnya. Om Agus memang orang yang lucu, namun jika ia ditanya
tentang perasaannya dengan kondisi Azka sekarang ia tak akan bisa menjawab
dengan kata-kata. Om Agus dekat dengan Azka sejak ia masih kecil saat ia belum
mengenal ramainya kota Mataram.
“saatnya
cheek Up Azka”. Dokter Angga tiba-tiba menenangkan suasana humor ruangan. Ia
datang bersama dengan asistennya Resti. Namun sebenarnya Resti paling sering
datang untuk menanyakan kondisi Azka bahkan hari-hari saat kondisi Azka masih
lemas ia sering menyuapi dan mengupaskannya buah apel favorit Azka.
Pernah,
katika Azka sudah bisa mulai berjalan suster Resti membantunya ke kamar mandi.
“Sudahlah rangkul saja pundak saya Ka’, tidak apa-apa”. Ujar Resti. “Iya
suster, tapi suster itu cantik suster tidak takut saya jatuh cinta sama
suster?”. Azka dengan nada humor yang diajarkan om Agus kepadanya. “Azka, kamu
ngomong apa sih”. Resti dengan wajah yang merona.
Nampaknya
resti sudah menaruh hati pada Azka. Ia memberanikan diri mencintai dan berharap
pada Azka dan ia yakin Azka tidak punya kekasih. Tak pernah ia lihat Azka
dikunjungi wanita special bahkan nelpon dengan orang lain pun tak pernah.
Kecuali neneknya saat tak bisa mengunjunginya ke rumah sakit.
Siang
itu Azka tidak ada yang temani. Ibunya pulang mengecek rumah ayah dan om
Agusnya pulang untuk bekerja pasalnya sudah hampir tiap minggu mereka izin.
Tidak enak rasanya. Datang seorang gadis dengan kaos biru dengan membawa
bingkisan buah di tangan kanannya. Sangat cantik.
Nampaknya
suster Resti yang datang. Ini sudah biasa. Resti sudah biasa datang diluar jam
kerjanya di rumah sakit untuk menemani Azka. Ternyata memang benar Resti menaruh
hati pada pasien spesialnya itu. “suster saya bisa minta tolong kupasin saya
apel lagi?” Azka menyambut Resti dengan
meminta pertolongan. “tentu bisa. Tapi kalau luar jam kerja jangan
penggil suster dong kan kedengarnya tidak enak”. Sahut Resti sambil mengupas
apel yang diminta Azka. “Astaga lupa sus” “Aduuuhh sus lagi” kambali resti. “Eh
maksudnya Resti” “Nah gitu kan enak”. Suasana semakin hangat.
Seperti
biasa Azka selalu disuapi Resti saat makan, makan apel sekali pun. Namun siang
ini sangat berbeda. Resti menyuapi Azka dengan pandangan yang tajam. Azka pun
tak kuasa melihat pandangan tajam dari suster tercantik di Rumah Sakit Umum
Mataram itu. Membuatnya membalas memandang dengan tajam.
Saat
pandangan mereka sudah satu arah pada mata mereka. Mereka terdiam seriba
bahasa. Tiba-tiba Resti merasa sangat nyaman dan mendekatkan bibirnya dengan
bibir Azkan yang kering pecah-pecah itu. Mata mereka masih saling memandang.
Rambut lurus nan halus Resti bergerai di atas wajah Azka. “Azka!” sahut seorang
gadis dari pintu masuk kamar. Dengan cepat Resti mengangkat wajahnya dengan
bibirnya yang hamper saja menyentuh bibir kering Azka. Wajah malu pun tak
terbendung dari keduanya.
Nampaknya
itu adalah Anis temannya. “Hey Nis, sama siapa kau datang?” “sama...” “Sayang”
teriak seorang gadis lainnya dari lorong kamar. Tanpa perhitungan dan pandangan
gadis itu langsung mendekati Azka dan mencium bibir keringnya. Suasana semakin
hening. Siapa yang berani mencegah seseorang ciuman? Tidak ada. Apalagi
pasangan kekasih yang sudah lama tidak berjumpa.
“Anda
temannya Azka ya?” Tanya resti kepada Anis. “Iya, saya temannya Indah
tunangannya Azka. Kami baru bisa datang sekarang soalnya Indah baru pulang dari
Umrah bersama dengan keluarga besarnya. Jadi dia tidaj=k bisa menghubungi Azka
walau dari telpon. Maaf Anda siapa?” Tanya anis kembali. “Saya.. saya.. suster
di sini, saya sedang ditugaskan menjaga Azka oleh dokter soalnya keluarganya
semua pada pulang, kalau begitu saya keluar dulu ya. Kan ada kalian yang jaga
Azka”.
Remuk,
sakit, malu dan kesal semua bercampur di wadah hati resti. Yang paling ia
sesalkan katika ia hampir saja mencium bibir tunangan orang. Untung saja yang
lihat itu bukan indah kalau dia, tak bisa ia bayangkan apa yang terjadi. Juga
untung saja bibirnya belum menyentuk bibir Azka. “Seharusnya aku tanyakan dulu
kepada Azka. Kenapa aku gegabah seperti ini”. Kalimat penyesalan yang selalu
terlintas di kalbu Resti.
Keesokan
harinya ia melihat kamar 209 sudah kosong. Tak ada lagi laki-laki yang sering
memanggilnya suster cantik itu. Nampaknya Azka sudah pulang dan sudah bisa
rawat jalan. Rasanya ia mau kembali lagi menghabiskan waktu luang kerjanya
bersama Azka. Namun itu sama saja ia mengharapkan Azka tidak sembuh. Perasaaan
sakit bercampur senang karena Azka sudah sehat bercampur.
Tak
lama. Resti melihat Azka mengumumkan tanggal pernikahannya dengan kekasihnya
Indah melalui akun social media miliknya. Tanggal yang sangat cantik 12-07-2024. Ia hanya bisa berdoa semoga Azka dan kekasihnya Indah bisa
membentuh keluarga yang kuat dan kokoh dengan keimanan dan ketakwaan. Ia sadar
cinta tak harus memiliki. Ia juga sadar ia hanyalah suster yang memang haru
merawat semua pasiennya denga kasih sayang. Hanya kasih sayang sebagai seorang
suster.