Kamis, 09 April 2015


BADAI IDIOT SEBELUM PELANGI KEJENIUSAN

Karya : M. Febrian Hadi

            Mataku ku fokuskan pada ujung sepatu ku. Menembus kacamata minus yang sesalu menempel   diwajahku. Tak ada niat untuk memandang ke depan dan mengankat pandangan kosong ku. Bukan hanya hari ini saja aku lakukan namun pada setiap pagi sesampai di sekolah yang bisa kulakukan hanyalah hal ini.
            Lorong sekolah nampaknya tenang dan sunyi pagi ini. Tak terdengar panggilan-panggilan “Anak pungut Idiot” yang biasanya menusuk tajam ke gendang telingaku dan menjadi sarapan setiap hari ku di sekolah. Namun hati ku tidak sensitive seperti gendang telingaku. Tak ada rasa dendam atas ucapan-ucapan khilaf mereka.
            “Usman!” panggilan mengarah kepada ku. Nampaknya ibu guru yang selalu menjadi penyemangat ku itu yang memanggil ku. “Iya bu’ Anna?” sahut ku dengan nada sopan dan merendah. “kesini ada yang mau ibu bicarakan”. Tak ada keraguan, langsung saja kuhampiri bu’ Anna dengan penuh hormat.
            Nampaknya bu’ Anna memanggilku karena nilai ku yang sangat buruk. Tak pernah nilai ku diatas 30/100 pada ujian matematika ataupun pelajaran lain. Bahkan nilai penjas orkes yang dianggap pelajaran termudah oleh teman-teman ku disekolah, aku hanya bisa sampai pada nila tertinggi 45/100 saja. Tapi hari jauh lebih buruk. Kulihat bu’ Anna memberiku lembar jawaban matematikaku dengan goresan tinta merah bertuliskan angka 15/100 di atasnya.
            “Man, kamu bukannya tidak bisa, akan tetapi hanya masih tertunda untuk bisa jadi jangan patah semangat ya” Motivasi yang diberikan bu’ Anna. “Terima Kasih bu’” jawab ku dengan senyum paksaan yang menghiasi wajahku.
            “Anak Pungut Idiot”. Panggilan itu sudah lumrah menusuk gendang telingaku yang sensitive ini. Hampir semua teman-teman sekolah ku memanggilku dengan panggilan itu. Terkadang khayalan tinggi dengan penyesalan dan setetes demi tetes curahan air mataku jatuh di belakang kacamata minusku. “mengapa aku begini?” Itulah yang selalu menjadi pertanyaan besar dalam batin ku. Betapa tidak, Ayah ku adalah seorang politikus yang terkenal dengan kecerdasan vocal dan sikap bijaksananya. Dan ibu ku seorang guru Biologi yang mengajar di salah satu SMA ternama di daerahku. Namun mereka mempunyai anak idiot seperti ku. Hal itulah yang membuat teman-teman ku memanggilku “anak pungut idiot”. Mungkin mereka berfikir aku hanyalah anak pungut yang di bina oleh orang jenius. Aku bukan anak dari orang tua ku.
            Terkadang kalbuku dengan pasrah ingin mengakui kalau aku bukanlah anak Ayah dan Ibu ku. Aku hanya anak idiot yang dipungut oleh orang yang jenius. Namun terkadang pula rasa bersalah dan berdosa saat aku bersikap su’uzan kepada kedua orang yang membesarkan ku itu. Pasalnya kasih sayang yang mereka curahkan padaku tidak menunjukkan kalau aku bukan anak mereka.
           
Ku pandang tajam langit di pagi yang tenang ini. Fokusku pada warna birunya yang tenang itu menembus lensa minus yang menempel di depan mataku. Lensa yang ku dapatkan kerena usaha belajarku yang sangat keras. Namun tak ada hasil yang memuaskan dari usaha itu.
            Tidak ada kelas pagi ini. Dan rencanaku hari ini aku hanya akan merenungkan diriku. Anak idiot yang dilahirkan dari orang tua yang jenius. Saat tatapanku masih tertuju pada birunya langit, terlihat awan yang tenang tanpa gerakan. Bentuk-bentuknya pun tidak berubah selama mataku memandanginya.
            “Usman, saatnya sarapan” panggil Ibu ku. Dengan sedikit terkejut ku tinggalkan khayalan dan memenuhi panggilan Ibu ku untuk sarapan. Pasalnya ibu ku orangnya paling tidak suka jika harus menunggu salah seorang anggota keluarga saat memulai makan.
“Bu’ !” panggilku pada ibu dengan nada yang haslus dan sedikit ragu. “ Iya sayang, ada apa?” sahut beliau dengan nada penuh rasa sayang. Rasanya ingin sekali menanyakan kenapa aku seperti ini? Namun hati ini tak kuasa jika melihat ibu bersedih dengan pertanyaan itu. “Tidak ada bu’, sarapannya enak” jawabku dengan senyuman mengiringinya. “Alhamdulillah” sambut ibu ku sambil0tersenyum0senang.
            Setelah sarapan, kembali ku pandangi birunya langit dan corak-corak abstrak yang menghiasinya tadi. Kembali kurenungkan dan ku tenggelam diriku dalam khayal pertanyaan yang membingungkan.0“Siapaiakuisebenarnya?”
            Sontak mata ku terfokus pada corak-corak abstrak yang dibentuk gulungan besar uap air itu. Kulihat, bentuk awan yang tak berubah-ubah tadi menjadi bentuk yang lain setelah aku mengalihkan pandangan ku untuk sarapan. Corak yang sangat berbeda kulihat. Padahal pagi ini tidak ada angin yang terasa oleh kilitku. Bahkan lensa kacamata ku pun tidak perlu kubersihkan keranaitakiterlihatisedikitipunidebuiyangimenempelipadanya.
            Sejenak ku turunkan pandangan dari langit. Memandang ke depan dengan pandangan kosong yang penuh renungan. “Awan tadi kulihat tidak berubah bentuknya. Namun setelah lama, mungkin dengan adanya angin walaupun lebih lemah dari tiupan seekor semut dapat mengubah corak awan itu. Bentuknya pun sangat berbeda tidak ada tanda-tanda kesamaan dari bentuk awalnya”. Renungan dalam pandangan kosong ku.
            Detik demi detik waktu berjalan. Sangat lama setelah pembelajaran yang hampir tak ada gunanya bagi otakku ku rasakan, akan ku lepas seragam putih biru ini. Sikap optimis yang selalu ada padaku semenjak aku diberi petunjuk awan oleh Tuhan membuatku yakin bahwa aku akan lulus dengan nilai yang bagus.
            Kacamata yang selalu membantuku dalam memahami rumaus-rumus pitagoras ini pun pun sudah kuganti. Pasalnya kacamata itu tak mampu lagi menopang tingginya tingkat usaha untuk mendapatkan nilai yang memuaskan. Aku tidak takut jika mata ku harus minus karena aku percaya segala sesuatu pasti ada resikonya bahkan hal baik sekalipun. Namun di pandangan Tuhan itu bukanlah sebuah resiko, akan tetapi itu adalah sebuah anugrah dan rahmat.
           



Sejak saat itu di sekolah aku lebih senang berada di tempat yang sepi dan terlihat menyendiri. Ini semua kulakukan agar aku bisa lebih fokus dalam memahami pelajaran-pelajaran. Wajar,kerena kerendahan IQ yang ku miliki aku harus belajar dengan keras di tempat yang sangat tenang dalam memahami hal sederhana sekalipun. Namun aku tak menyerah, apapun akan kulakakan untuk membuktikan aku bukan sepeti yang mereka fikirkan. Bu’ Anna juga pernah mengatakan kepadaku “IQ adalah anugrah Tuhan yang diberikan pada umatnya dengan tingkatan yang berbeda-beda, namun dengan usaha dan kerja keras IQ yang dimilki seseorang bisa dirubah”.
            Usahaku tak sia-sia. Petunjuk yang diberikan Tuhan kepadaku sangat berguna. Kata bu’ Anna tentang IQ itu pun benar adanya. Ini terbukti saat namaku disebutkan dalam pengumuman kelulusan di SMP ku. Namaku pun tertulis di urutan ke 2 pada papan pengumuman. Di bawah cewek yang terkenal jenius di sekolahku. Cece  pitulah nama panggilannya.
            Kulihat semua siswa bahkan para guru-guru ku pun terdiam, terlihat di wajah mereka perasaan heran. “selamat ya Nak! Akhirnya kamu bisa membuktikan kamu adalah anak jenius yang tertunda kejeniusannya”. Ucap bu’ Anna kepadaku dengan mata yang berkaca-kaca. Nampaknya perasaaan haru datang saat aku harus pergi meninggalkan beliau di SMP ini setelah usaha beliau untuk membuatku jenius berhasil.
            Orang tua ku pun menangis haru dengan prestasiku. Silih berganti teman-temanku memberikan selamat dan ada pula yang meminta maaf padaku atas kelakukan merek terhadap ku dulu. Maaf mereka pun ku balas dengan rasa terima kasih. Karena hinaan mereka terhadapku telah menjadi motivasi yang luar biasa dalam perubahanku.
            Aku percaya, jika awan yang mengandung air pada langit dapat di ombang-ambingkan bentuknya dengan lembutnya angin. Walau tidak cepat perubahan itu akan terjadi seiring konsistennya angin dan berputarnya detik siang malam. Tidak ada sesuatu hal yang tidak mungkin, hanya ada hal yang sangat sulit. Namun sangat sulit bukan berarti tidak bisa.




BERI AKU SEDETIK DARI SEABAD MU

Karya : M. Febrian Hadi


        “Aku mencintai mu selamanya” “Aku juga sayang ku, selamanya”. Tulisan yang ada di pesan
singkat yang dibalas Araf dari Linda kekasihnya. Mereka sudah lama tak pernah berjumpa. Hanya dari
pesan singkat saja saling menyapa, bahkan itu pun tak pernah sering. Sesering Linda merindukan
kekasihnya. Terkadang ia jenuh dengan apa yang sedang terjadi. Namun rasa sayang dan cinta yang
begitu besar dan serius kepada kekasihnya itu membuatnya lebih kuat dan semangat menghadapi
semua ini.

        Malam minggu ini terasa sangat sepi. Apalagi kekasihnya tidak menghubungi. Mereka salaing
menghubungi hanya jika Araf menghubungi lebih dahulu. Araf sangat sibuk dengan urusan bisnisnya
yang ia geluti semenjak 5 tahun lalu.
Malam sudah sepi. Bahkan binatang-binatang kecil yang menjadi pengantar tidur Linda sudah
menutup mata dan bermimpi. Namun mata linda rasanya tak mau ditutup dan bermimpi. Ia khawatir
jika saat ia tidur nanti ada pesan dari Araf. Ia sangat khawatir jika Araf sakit hati. Rasanya lebih baik ia
yang merasakan hal itu.

        “Ping” bunyi handphone yang ia taruh dekat telingnya itu. “Assalamu’alaikum wr..wb kekasih ku
! kau tahu, aku sangat merindukan mu”. Tilisan pada pesan itu. “Wa’alaikummussalam wr..wb sayang.
Aku pun begitu. Sayang apa kabar ?” balas linda dengan penuh rasa gembira seakan ngantuk tak ia
hiraukan. “Alhamdulillah baik sayang ku. Saya kerja dulu ya. Saya ada persentasi di meeting besok.
Assalamu’alaikum”. Dengan ikhlas Linda membalas “Iya sayang. Jaga kesehatan. Wa’alaikummussalam”.
Hanya sebatas itu pesan yang ditunggu Linda. Bahkan itu membuat Linda sangat bahagia. Tak
jarang ia menunggu sampai dini hari yang sia-sia. Namun malam ini sangat beruntung baginya, ia bisa
menghubungi orang yang sangat ia cintai itu.

            “Linda. Sudah lama aku memperhatikan mu, rasanya sangat tenang dan indah jika aku ada di
samping mu. Apakah kau mau menjadi kekasih ku Lin ?”. “sungguh Raf ?, kamu tidak main-main kan?
Linda sedikit malu dan memastikan. “Demi Allah aku serius Lin”. Araf meyakinkan. “kalau kamu memang
yakin, dan kamu memang serius. Aku bersedia mendampingi hidup mu Raf. Tapi aku takut jika kelak kita
saling menyakiti”. “Aku bersumpah demi hari Jum’at yang diagungkan Allah ini Lin, aku tak akan pernah
membuatmu menangis”. “iya sudah Raf. Aku bersedia”. Linda senang namun tetap jaim. Itulah percakapan serius yang terjadi 6 Tahun lalu. Saat mereka masih menjajaki pendidikan kampus mereka.

             “Sayang, besok aku akan wisuda”. Araf tiba-tiba mengabari. Niatnya dia ingin member kejutan
karena rencananya mereka akan menikah 1 tahun setelah Araf wisuda. “Alhamdulillah. Selamat sayang
ku” Linda tak sabar dilamar. “kau siap menjadi istri ku Lin?” Araf iseng-iseng serius. “Aku siap kapan pun
sayang siap” Linda membalas. Tak sabar rasanya Linda menggendong dan menyanyika lagu untuk buah
hatinya.
               Kumunikasi tentang persiapan pernikahan mereka siapkan dengan matang. Segala hal yang
sekiranya mereka butuhkan kelak. Namun agar lebih siap menjajaki hubungan yang lebih serius. Araf
mencoba memanfaatkan gelas sarjana ekonominya untuk memulai binis kecil-kecilan. ia rasanya tidak
mau hanya mengharapkan warisan orang tuanya. Walaupun hanya ia yang akan mendapatkannya.
Lima bulan berlalu. Bisnis yang di keluti Araf bukan lagi bisnis kecil-kecilan. Rumah makan yang
ia bangun sudah tidak menjadi rumah makan lagi, melainkan restoran megah yang mewah. Modal yang
dipercayan orang tuanya ia gunakan dengan baik dan penuh tanggung jawab.

              Kesuksesan yang ia peroleh dari bisnisnya ini membuatnya semakin serius dan senang
menggelutinya. Bulan demi bulan berlalu aset dan modal untuk memperbesar bisnisnya pun mengalir
deras. Tak tanggung tanggung, tanah termahal sekalipun dibelinya untuk mendapatkan posisi restoring
yang strategis.

              Sebelas bulan berlalu sejak ia memulai bisnisnya. Dan sekarang ia lagi sibuknya mempersiapkan
rencana besar yang ada di pikirannya. namun bukan rencana yang ia setujui dengan Linda kekasuhnya
12 bulan lalu. Pembangunan besar-besaran di 5 kota besar itulah rencana yang sedang ia pikirkan saat
ini.

              “sayang. Sayang seriuskan dengan apa yang sayang rencanakan dulu?” “saya tidak pernah main main dengan apa yang saya rencanakan sayang ku. Namun tahun ini sepertinya tidak bisa, kau tahu kan
pekerjaan ku masih sangat padat mana bisa aku tinggalkan. Pernikahan kan butuh persiapan yang sangat
matang”. Araf memberi pengertian. Linda kaget bukan kepalang, siang terik itu terasa sedigin awan
mendung. Pasalnya ia berharap satu minggu lagi ia akan dilamar Araf. Namun semunya kandas. Ia pun
hanya tersenyum dan mengikhlaskan apa yang terjadi.

              “Ini kan hanya penundaan bukan pembatalan” pikir Linda jika ia ingat rencananya yang batal itu.
Untunglah kedua orang tua mereka belum tahu tentang rencan mereka. Jadi walau sakit pun Linda akan
tanggung tidak memberatkan orang lain apalalagi orang tuanya.

              Satu tahun sudah berlalu. tak pernah Araf mengungkit masalah rencana mereka. Bahkan ia semakin sibuk dengan bisnisnya. Kado dan hadiah sudah tak tau dimana Linda simpan. Sudah terlalu banyak. Mungkin Araf memberikan itu supaya Linda tidak berfikir Araf menghindar darinya. Ia hanya
ingin mempersiapkan rumah tangga yang sempurna.

              Apalagi sekarang, Araf semakin sibuk dengan binisnya. Tak jarang ia keluar negeri untuk
mengurus saham yang ditanamnya di perusahaan-perusahaan disana. Apalagi membicarakan rencana mereka, saling meyapa pun jarang dalam setengah minggu. Bukan karena Araf tak mau tapi karena urusan yang tak dapat ia tinggalkan. Apalagi persiapan ia menempuh S3 nya di Berlin, Jerman. Hampir dalam satu bulan mereka tak pernah saling menyapa.

              Rasa saling percayalah yang membuat hubungan mereka tetap harmonis dan terjaga. Namun bagi Linda yang berharap itu sangat sulit menghadapi ini. Ia terkadang tidak dapat tidur tiga hari tiga malam. Memikirkan kenapa ini bisa terjadi ? apalagi rindu hati tak bisa kompromi semakin ia tak bisa tenang untuk tidur.

              Namun setelah 5 tahun berlalu. sejak Araf mulai menggeluti bisnis itu Linda sudah tak terlalau
risau lagi. Walau terkadang rasa rindu menghalangi langkahnya untuk berjalan pada inidahnya mimpi
tidurnya. Ia haya bisa bersabar menunggu pesan dari kekasihnya. Tak mau ia menggaggu apalagi
membuat kekasihnya marah karena rasa rindunya. Lebih baik ia pendam dan nikmati sakitnya sendiri
daripada harus membuat orang yang disayanginya risih olehnya.

             "Assalamu’alaikum Lin. Sepertinya untuk tiga bulan ini kita tidak bisa saling hubungi. Aku minta
maaf ya, bukan karena aku ingin menghindar dari mu. Tapi aku harus fokus di kuliah dan bisnis ku
supaya aku lebih siap dan cepat mempersunting mu” pesang singkan yang di peroleh Linda saat baru
pulang mengajar itu. “Iya sayang. Sayang jaga kesahatannya”. Linda hanya berpura-pura bersikap tegar.
Padahal apa yang ia rasakan saat ini sangat sakit dan menggila.

              Satu minggu setelah pesan itu ia dapatkan. Ia di bawa ke rumah sakit terdekat. Perut bagian kananya membengkak dan terasa sakit baginya. Ia dan keluarganya merasa itu hanya masuk angin biasa.
Namun tak pernah rasanya ia masuk angin bisa sesakit itu. Apalagi perut bagian hati dan livernya
membengkak.

              Setelah didiagnosa, ternyata ia sorosis hati kronis menggrogotinya. Mungkin karena ia jarang tidur dan pola hidup yang salah yang membuat wanita kuning lansat ini menderita. Buruknya lagi, dokter memfonis ia tak akan lama bisa bernafas. Tak sampai 2 bulan lagi hatinya akan lebur. Tak ada yang bisa dilakukan. Pasalnya ia sudah lama menyembunyikan sakit luar biasa yang ia rasakan. Ia tak mau membuat orang yang ia sanyangi khawatir dengannya apalagi sampai meninggalkan urusannya.

             Namun ini tak bisa ia lawan dan juga tak bisa ia biarkan. Apapun yang terjadi ia harus menghubungi Araf. Ia sangat merindukan saat ia bersama Araf. Namun tak pernah Araf mengabulakan apa yang Linda inginkan, ia hanya mengatakan kesibukan akan bisnisnya.
            Tetapi Linda kali ini menginginkan Araf di sampingnya. Ia ingin akhir waktunya ia habiskan bersama orang yang ia sayangi. Berbagai cara ia menghubungi Araf, namun tak pernah tersambung. Mungkin Araf tidak mengaktifkan handphonenya. Ia hanya menggunakan telpon kantornya agar ia bisa lebih konsentrasi mengurus bisnisnya.

              “Araf, andai kau tahu apa yang kurasakan. Mungkin engkau akan berkunjung menemui ku setiap
saat. Namun sepernya kau tak merasakan apa yang ku rasakan, kau hanya merasakan aku mencintai mu.
Aku mohon kepada mu, beri aku sedetik dari seabadmu agar aku bisa bahagia. Tapi taka pa sayang ku.
Jangan pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Semoga engkau menemukan yang lebih baik dari ku”.

              Hanya surat kecil itu Linda tinggalkan pada Araf. Sampai detik terakhirpun ia tak berjumpa kakasihnya. Ia tak tau kekasihnya membaca suratnya atau tidak. Namun ia sudah tenang, ia tak mau lagi
disiksa oleh rasa cintanya. Walau rasa cinta yang terkadang membuatnya bahagia. Dalam khayal semata.