Kamis, 29 Desember 2016


Kasih Seorang Suster


“Dorong cepat, langsung bawa ke ruang operasi !  Pasang oksigennya segera, tetap cek denyutnya nadinya”. “Baik dok”. Intruksi dokter kepada para asistennya untuk segera melakukan tindakan untuk menyelamatkan seorang pemuda. Darah dan luka membujur di seluruh tubuh bahkan ia tak sadarkan diri. Ia hanya di bawa oleh pria paruh baya yang sehari-hari bekerja sebagai kuli jalanan.
              Pemuda itu menabrak truk proyek yang parker di sebelah kiri jalan. Tak ada yang patut disalahkan. Truk yang tanpa sopir itu sudah benar parker disana. Azkan pun tak bisa disalahkan, ia menabtrak truk tronton itu lantaran ban motor yang dikendarainya meletus dan membuatnya kehilangan kendali hingga menabrak.
Nyaris. Jika kurang 20 menit saja para dokter handal itu mengambil tindakan operasi mungkin wajah ceria dan cerdasnya tak akan dapat dilihat lagi. Syukurlah hidupnya terselamatkan melalui seorang kuli jalan yang biasa di panggil pak Akoh itu. Beliau memang terkenal dengan sikapnya yang deermawan. Rumornya duda tua itu sanggup tidak makan sehari bila melihat orang yang sangat memerlukan pertolongan. Sungguh mulia hati yang beliau jaga.
Malam mulai menyelimuti kota Mataram yang giguyur hujan deras sejak tadi sore. Terlihat menggelitik kaget ringan jari telunjuk yang habis dibalut perban itu. Pak Ahok yang hanya sendiri di dalam ruangan langsung memanggil dokter Angga yang sedang bertugas di ruang sebelah. Dokter Angga datang bersama dengan asistennya Resti. Nampaknya Azka sudah mulai siuman dan sudah sadarkan diri.
Yang ia kagetkan adalah bukan karena kenapa bannya tadi siang meletus. Namun yang paling ia kagetkan ketika ia tidak melihat orang yang dikenalinya tidak di sana bersamanya. Ia hanya melihat bapak paru baya yang memakai topi hitam kusam oleh semen. Ia pikir mungkin beliau sopir truk yang ditabraknya tadi. Dan sekarang beliau akan minta ganti rugi.
“sudah baikan nak?” Tanya pak Ahok padanya. Ia hanya mengguk tanpa sepatah kata. “Bapak tadi berusaha mencari identitas mu nak, namun kamu tidak membawa kartu identitas apapun. Namun tenanglah bapak sudah hubungi polisi setempat untuk mencari identitas mu”.
Siapa laki-laki ini? Azka semakin penasaran rasanya. “mengapa ia membantu ku padahal aku tak mengenalnya. Kalau pun itu sopir truk yang ingin meminta ganti rugi kenapa tidak minta langsung sekarang”. Terlintas dalam hatinya sambil memandangi wajah kriput tua disamping kirinya itu.

“tadi bapak sedang bekerja di pinggir jalan. Tiba-tiba terdengar suara tabrakan keras dari sebelah kanan bapak. Nampaknya kamu menabrak truk yang sedang parkr di tepi jalan. Bapak ikut kesini soalnya kamu tidak punya identitas apapun. Jadi bapak ditugaskan pak polisi untuk menjagamu sementara identitas mu di temukan. Ini makan dulu buburnya, biar bapak suapin”. Ucap pak Akoh saat sedang menyuapi bubur makan malam kepadanya.
Ternya bukan sopir truk yang ia kira. Beliau orang baik ternya. Pikirnya sambil menelan bubur halus yang diberikan Rumah Sakit Umum Mataram. “Pak!” “Eh kamu sudah bisa ngomong?” “iya pak, boleh saya minta tolong pinjam hanphone bapak bentar?” Tanya Azaka meminta. “tentu nak, silahkan hubungi orang tua mu”. “Iya pak, terima kasih”.
Saat ia mulai menekan tombol-tobol kasar pada handphone jadul itu, tiba tiba suara pintu terbuka dan terlihat wajah yang sangat tak asing baginya. “Kamu yang menabrak anak saya? Kamu yang membuatnya begini? Dasar manusia tak berhati”. Geram pak Ahmad sambil memegang keras leher baju pak Ahok yang sudah mulai rapuh. “bukan pak, bukan. Beliau yang menyelamatkan putra bapak mungkin kalau beliau tidak ada bapak tidak akan bisa melihat anak bapak lagi”. Dokter Angga berusaha menenangkan Ayah Azka.
“Kenapa baru datang Yah?”. Tanya Azka dengan nada haru nan bergelinang air mata. “Maafkan Ayah nak. Tadi bapak ada rapat rutin di kantor bapak juga dapat info ini tadi setelah sholat magrib dari polisi. Kata mereka kamu ndak bawa identitas apa apa makanya mereka sulit menginfokan ini kepada kami. Ayah minta maaf ya sayang maafkan Ayah”. Ayahnya tak kuasa menahan rasa sedih yang bercampur rasa bersalah itu. Tak dapat beliau bayangkan jika anak laki-laki satu-satunya yang sangat beliau banggakan tak dapat beliau lihat lagi. “Sudahlah Yah, tak apa semuanya juga sudah terjadi”. Azka menangkan Ayahnya yang bergelinang air mata. “Lalu ibu dimana Yah ?” Azka kebingungan. “Ibunmu akan segera kesini nak, tadi Ayah pulang dari kantor langsung ke Mataram. Bapak sudah telpon om Agus mu buat bawa ibu ke sini pakek mobilnya. Azka hanya terdiam dan berusaha mengistirahatkan penaknya.
“Maaf ya pak, tadi saya salah paham dan memfitnah bapak. Saya tidak bisa kendalikan diri saya tadi pak saking paniknya”. “Iya tidak apa-apa pak, saya mengerti apa yang bapak rasakan, saya juga penah mengalami yang bapak alami. Namun saya lebih sakit pak. Anak dan istri saya saya temukan dalam kondisi tak bernafas lagi pasca kecelakan bus 3 tahun lalu”. “Astaga maafkan saya pak, saya tidak tahu tentang itu”. “Iya pak, tidak apa itu sudah lama terjadi”. Sambut pak Akoh dengan wajah tabah.
“oiya ngomog-ngomong, perkenalkan saya Ahmad Ayahnya Azka. Nama bapak siapa?”. Kembali pak Ahmad menghangatkan bekunya malam dengan sedih malam itu. “Nama saya Akoh pak, saya kuli jalanan”. “Terima kasih banyak pak atas pertolongan bapak. Kalau tidak ada  bapak siang tadi saya tidak tau apa yang akan terjadi pak, saya tidak akan pernah bisa memaafkan diri saya”. Pak Ahmad begitu sedih dan masih terpukul penyesalan karena tidah ada di samping anaknya saat operasi siang tadi.
Pebincangan mereka di lorong kamar 209 rasanya memecah bekunya malam. Dari kejauhan terdengar suara langkah sedikit lari dari sandal jepit, sepertinya lebih dari satu orang. Saat melihat itu ibunya Azka pak Ahmad langsung menjemput dan memeluk menenangkan istrinya yang terlihat histeris. “mana Azka Yah, saya mau melihatnya”. Bu’ Unul dengan tangisannya yang tak bisa beliau tahan. “Iya bu’ tapi tenangkan diri ibu dulu, Azka sudah baikan sekarang”. Pak Ahmad mencoba menenangkan.

Melihat anaknya yang lemas tak berdaya di atas kasur berseprai putih itu membuat bu Unul semakin histeris dicampuri rasa penyesalan. Karena dokter masih mengecek kondisinya Beliau hanya dapat melihat melalui kaca kecil pintu kamar rumah sakit. Tak henti air mata pnyesakan keluar dari kelopak mata bu Unul. Pak Ahmad terus berusaha menenangkan istrinya, namun rasanya beliau juga semakin tidak tenang melihat istrinya yang begitu sedih dan menyesali ketidak hadirannya tadi siang.
Dokter baru selasai melakukan pemeriksaaan total pada tengah malam. Namun bu’ Unul masih saja menangis bahkan terlihat air mata beliau sudah tak mengiringi tangis sesalnya. “Nak, maaf kan ibu”. Hanya kata itu yang bisa beliau katakana di depan tubuh anaknya yang terbaring tak berdaya malam itu.


Setelah beberapa minggu kondisi Azka sudah mulai membaik. Ia sudah bisa tertawa dengan candaan om Agusnya. Om Agus memang orang yang lucu, namun jika ia ditanya tentang perasaannya dengan kondisi Azka sekarang ia tak akan bisa menjawab dengan kata-kata. Om Agus dekat dengan Azka sejak ia masih kecil saat ia belum mengenal ramainya kota Mataram.
“saatnya cheek Up Azka”. Dokter Angga tiba-tiba menenangkan suasana humor ruangan. Ia datang bersama dengan asistennya Resti. Namun sebenarnya Resti paling sering datang untuk menanyakan kondisi Azka bahkan hari-hari saat kondisi Azka masih lemas ia sering menyuapi dan mengupaskannya buah apel favorit Azka.
Pernah, katika Azka sudah bisa mulai berjalan suster Resti membantunya ke kamar mandi. “Sudahlah rangkul saja pundak saya Ka’, tidak apa-apa”. Ujar Resti. “Iya suster, tapi suster itu cantik suster tidak takut saya jatuh cinta sama suster?”. Azka dengan nada humor yang diajarkan om Agus kepadanya. “Azka, kamu ngomong apa sih”. Resti dengan wajah yang merona.
Nampaknya resti sudah menaruh hati pada Azka. Ia memberanikan diri mencintai dan berharap pada Azka dan ia yakin Azka tidak punya kekasih. Tak pernah ia lihat Azka dikunjungi wanita special bahkan nelpon dengan orang lain pun tak pernah. Kecuali neneknya saat tak bisa mengunjunginya ke rumah sakit.
Siang itu Azka tidak ada yang temani. Ibunya pulang mengecek rumah ayah dan om Agusnya pulang untuk bekerja pasalnya sudah hampir tiap minggu mereka izin. Tidak enak rasanya. Datang seorang gadis dengan kaos biru dengan membawa bingkisan buah di tangan kanannya. Sangat cantik.
Nampaknya suster Resti yang datang. Ini sudah biasa. Resti sudah biasa datang diluar jam kerjanya di rumah sakit untuk menemani Azka. Ternyata memang benar Resti menaruh hati pada pasien spesialnya itu. “suster saya bisa minta tolong kupasin saya apel lagi?” Azka menyambut Resti dengan   meminta pertolongan. “tentu bisa. Tapi kalau luar jam kerja jangan penggil suster dong kan kedengarnya tidak enak”. Sahut Resti sambil mengupas apel yang diminta Azka. “Astaga lupa sus” “Aduuuhh sus lagi” kambali resti. “Eh maksudnya Resti” “Nah gitu kan enak”. Suasana semakin hangat.
Seperti biasa Azka selalu disuapi Resti saat makan, makan apel sekali pun. Namun siang ini sangat berbeda. Resti menyuapi Azka dengan pandangan yang tajam. Azka pun tak kuasa melihat pandangan tajam dari suster tercantik di Rumah Sakit Umum Mataram itu. Membuatnya membalas memandang dengan tajam.
Saat pandangan mereka sudah satu arah pada mata mereka. Mereka terdiam seriba bahasa. Tiba-tiba Resti merasa sangat nyaman dan mendekatkan bibirnya dengan bibir Azkan yang kering pecah-pecah itu. Mata mereka masih saling memandang. Rambut lurus nan halus Resti bergerai di atas wajah Azka. “Azka!” sahut seorang gadis dari pintu masuk kamar. Dengan cepat Resti mengangkat wajahnya dengan bibirnya yang hamper saja menyentuh bibir kering Azka. Wajah malu pun tak terbendung dari keduanya.
Nampaknya itu adalah Anis temannya. “Hey Nis, sama siapa kau datang?” “sama...” “Sayang” teriak seorang gadis lainnya dari lorong kamar. Tanpa perhitungan dan pandangan gadis itu langsung mendekati Azka dan mencium bibir keringnya. Suasana semakin hening. Siapa yang berani mencegah seseorang ciuman? Tidak ada. Apalagi pasangan kekasih yang sudah lama tidak berjumpa.
“Anda temannya Azka ya?” Tanya resti kepada Anis. “Iya, saya temannya Indah tunangannya Azka. Kami baru bisa datang sekarang soalnya Indah baru pulang dari Umrah bersama dengan keluarga besarnya. Jadi dia tidaj=k bisa menghubungi Azka walau dari telpon. Maaf Anda siapa?” Tanya anis kembali. “Saya.. saya.. suster di sini, saya sedang ditugaskan menjaga Azka oleh dokter soalnya keluarganya semua pada pulang, kalau begitu saya keluar dulu ya. Kan ada kalian yang jaga Azka”.
Remuk, sakit, malu dan kesal semua bercampur di wadah hati resti. Yang paling ia sesalkan katika ia hampir saja mencium bibir tunangan orang. Untung saja yang lihat itu bukan indah kalau dia, tak bisa ia bayangkan apa yang terjadi. Juga untung saja bibirnya belum menyentuk bibir Azka. “Seharusnya aku tanyakan dulu kepada Azka. Kenapa aku gegabah seperti ini”. Kalimat penyesalan yang selalu terlintas di kalbu Resti.
Keesokan harinya ia melihat kamar 209 sudah kosong. Tak ada lagi laki-laki yang sering memanggilnya suster cantik itu. Nampaknya Azka sudah pulang dan sudah bisa rawat jalan. Rasanya ia mau kembali lagi menghabiskan waktu luang kerjanya bersama Azka. Namun itu sama saja ia mengharapkan Azka tidak sembuh. Perasaaan sakit bercampur senang karena Azka sudah sehat bercampur.
Tak lama. Resti melihat Azka mengumumkan tanggal pernikahannya dengan kekasihnya Indah melalui akun social media miliknya. Tanggal yang sangat cantik 12-07-2024. Ia hanya bisa berdoa semoga Azka dan kekasihnya Indah bisa membentuh keluarga yang kuat dan kokoh dengan keimanan dan ketakwaan. Ia sadar cinta tak harus memiliki. Ia juga sadar ia hanyalah suster yang memang haru merawat semua pasiennya denga kasih sayang. Hanya kasih sayang sebagai seorang suster.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar