Kamis, 09 April 2015


BERI AKU SEDETIK DARI SEABAD MU

Karya : M. Febrian Hadi


        “Aku mencintai mu selamanya” “Aku juga sayang ku, selamanya”. Tulisan yang ada di pesan
singkat yang dibalas Araf dari Linda kekasihnya. Mereka sudah lama tak pernah berjumpa. Hanya dari
pesan singkat saja saling menyapa, bahkan itu pun tak pernah sering. Sesering Linda merindukan
kekasihnya. Terkadang ia jenuh dengan apa yang sedang terjadi. Namun rasa sayang dan cinta yang
begitu besar dan serius kepada kekasihnya itu membuatnya lebih kuat dan semangat menghadapi
semua ini.

        Malam minggu ini terasa sangat sepi. Apalagi kekasihnya tidak menghubungi. Mereka salaing
menghubungi hanya jika Araf menghubungi lebih dahulu. Araf sangat sibuk dengan urusan bisnisnya
yang ia geluti semenjak 5 tahun lalu.
Malam sudah sepi. Bahkan binatang-binatang kecil yang menjadi pengantar tidur Linda sudah
menutup mata dan bermimpi. Namun mata linda rasanya tak mau ditutup dan bermimpi. Ia khawatir
jika saat ia tidur nanti ada pesan dari Araf. Ia sangat khawatir jika Araf sakit hati. Rasanya lebih baik ia
yang merasakan hal itu.

        “Ping” bunyi handphone yang ia taruh dekat telingnya itu. “Assalamu’alaikum wr..wb kekasih ku
! kau tahu, aku sangat merindukan mu”. Tilisan pada pesan itu. “Wa’alaikummussalam wr..wb sayang.
Aku pun begitu. Sayang apa kabar ?” balas linda dengan penuh rasa gembira seakan ngantuk tak ia
hiraukan. “Alhamdulillah baik sayang ku. Saya kerja dulu ya. Saya ada persentasi di meeting besok.
Assalamu’alaikum”. Dengan ikhlas Linda membalas “Iya sayang. Jaga kesehatan. Wa’alaikummussalam”.
Hanya sebatas itu pesan yang ditunggu Linda. Bahkan itu membuat Linda sangat bahagia. Tak
jarang ia menunggu sampai dini hari yang sia-sia. Namun malam ini sangat beruntung baginya, ia bisa
menghubungi orang yang sangat ia cintai itu.

            “Linda. Sudah lama aku memperhatikan mu, rasanya sangat tenang dan indah jika aku ada di
samping mu. Apakah kau mau menjadi kekasih ku Lin ?”. “sungguh Raf ?, kamu tidak main-main kan?
Linda sedikit malu dan memastikan. “Demi Allah aku serius Lin”. Araf meyakinkan. “kalau kamu memang
yakin, dan kamu memang serius. Aku bersedia mendampingi hidup mu Raf. Tapi aku takut jika kelak kita
saling menyakiti”. “Aku bersumpah demi hari Jum’at yang diagungkan Allah ini Lin, aku tak akan pernah
membuatmu menangis”. “iya sudah Raf. Aku bersedia”. Linda senang namun tetap jaim. Itulah percakapan serius yang terjadi 6 Tahun lalu. Saat mereka masih menjajaki pendidikan kampus mereka.

             “Sayang, besok aku akan wisuda”. Araf tiba-tiba mengabari. Niatnya dia ingin member kejutan
karena rencananya mereka akan menikah 1 tahun setelah Araf wisuda. “Alhamdulillah. Selamat sayang
ku” Linda tak sabar dilamar. “kau siap menjadi istri ku Lin?” Araf iseng-iseng serius. “Aku siap kapan pun
sayang siap” Linda membalas. Tak sabar rasanya Linda menggendong dan menyanyika lagu untuk buah
hatinya.
               Kumunikasi tentang persiapan pernikahan mereka siapkan dengan matang. Segala hal yang
sekiranya mereka butuhkan kelak. Namun agar lebih siap menjajaki hubungan yang lebih serius. Araf
mencoba memanfaatkan gelas sarjana ekonominya untuk memulai binis kecil-kecilan. ia rasanya tidak
mau hanya mengharapkan warisan orang tuanya. Walaupun hanya ia yang akan mendapatkannya.
Lima bulan berlalu. Bisnis yang di keluti Araf bukan lagi bisnis kecil-kecilan. Rumah makan yang
ia bangun sudah tidak menjadi rumah makan lagi, melainkan restoran megah yang mewah. Modal yang
dipercayan orang tuanya ia gunakan dengan baik dan penuh tanggung jawab.

              Kesuksesan yang ia peroleh dari bisnisnya ini membuatnya semakin serius dan senang
menggelutinya. Bulan demi bulan berlalu aset dan modal untuk memperbesar bisnisnya pun mengalir
deras. Tak tanggung tanggung, tanah termahal sekalipun dibelinya untuk mendapatkan posisi restoring
yang strategis.

              Sebelas bulan berlalu sejak ia memulai bisnisnya. Dan sekarang ia lagi sibuknya mempersiapkan
rencana besar yang ada di pikirannya. namun bukan rencana yang ia setujui dengan Linda kekasuhnya
12 bulan lalu. Pembangunan besar-besaran di 5 kota besar itulah rencana yang sedang ia pikirkan saat
ini.

              “sayang. Sayang seriuskan dengan apa yang sayang rencanakan dulu?” “saya tidak pernah main main dengan apa yang saya rencanakan sayang ku. Namun tahun ini sepertinya tidak bisa, kau tahu kan
pekerjaan ku masih sangat padat mana bisa aku tinggalkan. Pernikahan kan butuh persiapan yang sangat
matang”. Araf memberi pengertian. Linda kaget bukan kepalang, siang terik itu terasa sedigin awan
mendung. Pasalnya ia berharap satu minggu lagi ia akan dilamar Araf. Namun semunya kandas. Ia pun
hanya tersenyum dan mengikhlaskan apa yang terjadi.

              “Ini kan hanya penundaan bukan pembatalan” pikir Linda jika ia ingat rencananya yang batal itu.
Untunglah kedua orang tua mereka belum tahu tentang rencan mereka. Jadi walau sakit pun Linda akan
tanggung tidak memberatkan orang lain apalalagi orang tuanya.

              Satu tahun sudah berlalu. tak pernah Araf mengungkit masalah rencana mereka. Bahkan ia semakin sibuk dengan bisnisnya. Kado dan hadiah sudah tak tau dimana Linda simpan. Sudah terlalu banyak. Mungkin Araf memberikan itu supaya Linda tidak berfikir Araf menghindar darinya. Ia hanya
ingin mempersiapkan rumah tangga yang sempurna.

              Apalagi sekarang, Araf semakin sibuk dengan binisnya. Tak jarang ia keluar negeri untuk
mengurus saham yang ditanamnya di perusahaan-perusahaan disana. Apalagi membicarakan rencana mereka, saling meyapa pun jarang dalam setengah minggu. Bukan karena Araf tak mau tapi karena urusan yang tak dapat ia tinggalkan. Apalagi persiapan ia menempuh S3 nya di Berlin, Jerman. Hampir dalam satu bulan mereka tak pernah saling menyapa.

              Rasa saling percayalah yang membuat hubungan mereka tetap harmonis dan terjaga. Namun bagi Linda yang berharap itu sangat sulit menghadapi ini. Ia terkadang tidak dapat tidur tiga hari tiga malam. Memikirkan kenapa ini bisa terjadi ? apalagi rindu hati tak bisa kompromi semakin ia tak bisa tenang untuk tidur.

              Namun setelah 5 tahun berlalu. sejak Araf mulai menggeluti bisnis itu Linda sudah tak terlalau
risau lagi. Walau terkadang rasa rindu menghalangi langkahnya untuk berjalan pada inidahnya mimpi
tidurnya. Ia haya bisa bersabar menunggu pesan dari kekasihnya. Tak mau ia menggaggu apalagi
membuat kekasihnya marah karena rasa rindunya. Lebih baik ia pendam dan nikmati sakitnya sendiri
daripada harus membuat orang yang disayanginya risih olehnya.

             "Assalamu’alaikum Lin. Sepertinya untuk tiga bulan ini kita tidak bisa saling hubungi. Aku minta
maaf ya, bukan karena aku ingin menghindar dari mu. Tapi aku harus fokus di kuliah dan bisnis ku
supaya aku lebih siap dan cepat mempersunting mu” pesang singkan yang di peroleh Linda saat baru
pulang mengajar itu. “Iya sayang. Sayang jaga kesahatannya”. Linda hanya berpura-pura bersikap tegar.
Padahal apa yang ia rasakan saat ini sangat sakit dan menggila.

              Satu minggu setelah pesan itu ia dapatkan. Ia di bawa ke rumah sakit terdekat. Perut bagian kananya membengkak dan terasa sakit baginya. Ia dan keluarganya merasa itu hanya masuk angin biasa.
Namun tak pernah rasanya ia masuk angin bisa sesakit itu. Apalagi perut bagian hati dan livernya
membengkak.

              Setelah didiagnosa, ternyata ia sorosis hati kronis menggrogotinya. Mungkin karena ia jarang tidur dan pola hidup yang salah yang membuat wanita kuning lansat ini menderita. Buruknya lagi, dokter memfonis ia tak akan lama bisa bernafas. Tak sampai 2 bulan lagi hatinya akan lebur. Tak ada yang bisa dilakukan. Pasalnya ia sudah lama menyembunyikan sakit luar biasa yang ia rasakan. Ia tak mau membuat orang yang ia sanyangi khawatir dengannya apalagi sampai meninggalkan urusannya.

             Namun ini tak bisa ia lawan dan juga tak bisa ia biarkan. Apapun yang terjadi ia harus menghubungi Araf. Ia sangat merindukan saat ia bersama Araf. Namun tak pernah Araf mengabulakan apa yang Linda inginkan, ia hanya mengatakan kesibukan akan bisnisnya.
            Tetapi Linda kali ini menginginkan Araf di sampingnya. Ia ingin akhir waktunya ia habiskan bersama orang yang ia sayangi. Berbagai cara ia menghubungi Araf, namun tak pernah tersambung. Mungkin Araf tidak mengaktifkan handphonenya. Ia hanya menggunakan telpon kantornya agar ia bisa lebih konsentrasi mengurus bisnisnya.

              “Araf, andai kau tahu apa yang kurasakan. Mungkin engkau akan berkunjung menemui ku setiap
saat. Namun sepernya kau tak merasakan apa yang ku rasakan, kau hanya merasakan aku mencintai mu.
Aku mohon kepada mu, beri aku sedetik dari seabadmu agar aku bisa bahagia. Tapi taka pa sayang ku.
Jangan pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Semoga engkau menemukan yang lebih baik dari ku”.

              Hanya surat kecil itu Linda tinggalkan pada Araf. Sampai detik terakhirpun ia tak berjumpa kakasihnya. Ia tak tau kekasihnya membaca suratnya atau tidak. Namun ia sudah tenang, ia tak mau lagi
disiksa oleh rasa cintanya. Walau rasa cinta yang terkadang membuatnya bahagia. Dalam khayal semata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar